PERKEMBANGAN TRANSMISI OTOMATIS MOBIL

image

Anda yang sempat tinggal di era 1980-an pasti ingat bagaimana pandangan orang akan transmisi otomatis saat itu. Lebih dari 90% penjualan mobil adalah tipe transmisi manual. Nyaris tak ada yang mau membeli versi matik karena beberapa alasan. Pertama ia lebih mahal, lantas performa mobil memburuk dan paling ditakuti adalah konsumsi BBM-nya yang tambah boros.

Itu semua benar. Semua mobil otomatis di zaman itu tak mampu menandingi efisiensi transmisi manual dalam memindahkan daya. Artinya transmisi otomatis dianggap hanya untuk orang berumur yang enggan repot dan tak mementingkan performa.

Namun lihat sekarang. Teknologi transmisi otomatis berkembang dengan pesatnya. Bukan hanya hebat untuk mobil sehari-hari, mobil balap sekelas F1 pun memiliki transmisi otomatis yang tinggal dioperasikan lewat paddle shift.

Mari kita simak bagaimana manusia mengevolusi transmisi sehingga mampu melakukan keajaiban dengan lebih efisien dan berperforma dibanding manual.

Evolusi Transmisi

ERA AWAL

Tak banyak yang tahu kalau transmisi otomatis sudah ada sejak 1904. Bahkan di 1908 Henry Ford memasangnya untuk Model T. Sistemnya sangat sederhana dan masih membutuhkan tuas untuk mengizinkan perpindahan gigi. Tapi tetap lebih mudah ketimbang manual tanpa sinkromes pada saat itu.

Teknologi material yang masih sangat rendah saat itu membuat transmisi otomatis sangat tidak bisa diandalkan dan sering rusak.

KOPLING FLUIDA

Di 1930-an, Chrysler mengembangkan transmisi revolusioner yang menggunakan kopling fluida. Keuntungan dari sistem ini, transfer tenaga bisa lebih halus karena fluida mengizinkan terjadinya gesekan kopling tanpa menimbulkan panas berlebih. Lantas paling penting, gigi bisa masuk saat berhenti tanpa membuat mesin mati.

Sementara perpindahan gigi juga bisa tereksekusi sepenuhnya otomatis. Ada sistem pemindah otomatis yang bekerja berdasarkan torsi dan gaya sentrifugal di dalam mesin. Jadi semakin cepat mesin berputar, semakin besar peluang transmisi memindahkan gigi ke atas. Begitu pula sebaliknya.

Transmisi ini begitu hebat di zamannya, sampai-sampai prinsip kerja serupa bahkan masih ada hingga saat ini. Kami di Auto Bild kerap menyebutnya dengan transmisi otomatis konvensional.

Tapi di lain sisi, transmisi jenis inilah yang belakangan membuat pamornya melorot, karena sangat tidak efisien dalam mentransfer tenaga. Alhasil performa dan kehematan menurun drastis.

Matik berfluida sudah ada sejak 1930-an CVT membuat pengendaraan halus dan juga hemat Kerjanya memindahkan daya, makanya transmisi sangat vital

image

CVT

Sekitar 40 tahun sejak ditemukannya transmisi otomatis konvensional, para insinyur kembali membuat teknologi revolusioner. Alih-alih memakai roda gigi di transmisi, mereka justru menggunakan sabuk baja yang diameternya bisa diubah lewat puli berbentuk unik.

Jadi perpindahan rasio transmisi tak terjadi dari gigi ke gigi, namun berlangsung gradual sesuai perubahan diameter puli. Hasilnya tidak ada perpindahan rasio gigi yang terasa. Putaran mesin bisa terjaga di satu titik sementara kecepatan mobil terus meningkat.

Konsumsi BBM semakin baik dengan transmisi jenis ini. Bukan hanya perpindahan rasionya tanpa jeda, namun luasnya rentang rasio memungkinkan mobil start dengan rasio transmisi sangat besar, lantas berada di rasio sangat kecil saat meluncur konstan di jalan tol.

Hingga kini CVT tetap dipakai beberapa mobil yang mengejar efisiensi BBM. Bahkan mobil hybrid kebanyakan menggunakan transmisi jenis ini.

Walau begitu, CVT bukanlah jenis transmisi yang cocok untuk pengendaraan dinamis. Selain masih ada selip kopling yang terjadi, waktu yang dibutuhkan untuk menaikkan putaran mesin ke titik tenaga maksimal relatif lebih lama.

image

TEKNOLOGI KOMPUTER

Saat teknologi elektronik meledak di 1980-an, para insinyur menemukan lagi cara untuk membuat transmisi otomatis lebih efisien, yakni dengan menggunakan modul komputer untuk mengatur perpindahan gigi.

Di sini transmisi tak lagi hanya mengandalkan gaya fisika di dalam mekanisme transmisi, tapi juga memiliki otak elektronik yang menentukan kapan perpindahan gigi harus terjadi.

Dengan begitu perpindahan gigi bisa diatur sesuai kebutuhan. Bahkan moda Eco dan Sport juga bisa diciptakan berkat teknologi elektronik ini.

PERPINDAHAN MANUAL

Pada era 1990-an, Porsche membuat gebrakan dengan membuat tuas elektronik yang mampu memaksa perpindahan gigi di transmisi otomatis bagaikan manual. Porsche menyebutnya sebagai Tiptronic. Tak butuh waktu lama bagi jenis fitur ini untuk populer di pasaran.

Karena teknologi serupa juga diaplikasikan di F1, maka tercipta pula perasaan sporti saat mengoperasikan Tiptronic. Lebih penting lagi, kita juga bisa mengatur perpindahan gigi, sehingga pengendaraan dinamis atau ekonomis bisa dilakukan dengan mudah.

Di Indonesia, kendaraan dengan jenis transmisi seperti ini pertama kali muncul di BMW Seri-5 E39 lantas Daihatsu menyediakan pula di YRV.

KOPLING GANDA

Inilah pengembangan terakhir yang sangat membantu reputasi transmisi otomatis. Pada dasarnya transmisi otomatis kopling ganda menggunakan 2 buah kopling kering. Artinya keuntungan pertama sudah bisa diterka, yakni tak ada selip yang biasanya terjadi di kopling basah.

Lantas kedua kopling itu terhubung dengan gigi yang berbeda. Satu terhubung dengan gigi yang sedang dipilih, satu lagi terhubung dengan gigi berikutnya. Alhasil ketika perpindahan gigi terjadi, prosesnya berlangsung sangat instan, bahkan lebih cepat dari kedipan mata.

VW Golf GTI Mk V yang hadir di Indonesia pada 2005 merupakan mobil pertama yang dijual massal di Indonesia menggunakan kopling ganda. VW menyebutnya DSG (Direct-Shift Gearbox). Uniknya, Golf GTI bertransmisi DSG memiliki performa 0-100 km/jam serta konsumsi BBM yang lebih baik dari versi manual.

Artinya transmisi kopling ganda berhasil membalikkan mitos. Kini transmisi otomatis bisa lebih cekatan dan efisien dibanding manual sekalipun.

(autobild)

Advertisements

4 thoughts on “PERKEMBANGAN TRANSMISI OTOMATIS MOBIL

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s